Lezat di Lidah, Cantik di Mata: Menikmati Seni dalam Makanan
Pernah gak sih kamu datang ke sebuah kafe atau restoran, lalu pas makananmu dihidangkan di atas meja, kamu langsung refleks mengeluarkan smartphone buat memfotonya sebelum dimakan? Di zaman sekarang, fenomena ini udah jadi hal yang lumrah banget. Alasan kita melakukan itu sebenarnya sederhana: karena makanan tersebut terlihat terlalu cantik untuk langsung dihancurkan dengan sendok dan garpu.
Nah, di sinilah kita sadar kalau dunia kuliner dan dunia seni itu sebenarnya punya hubungan yang sangat erat. Makanan zaman sekarang bukan lagi sekadar urusan mengenyangkan perut atau memanjakan lidah, melainkan sudah bertransformasi menjadi sebuah media visual yang luar biasa. Selamat datang di dunia seni dalam makanan, di mana para koki bertindak sebagai pelukis dan piring putih bertindak sebagai kanvasnya!
Kanvas Piring: Mengenal Tren Food Plating Modern
Kalau pelukis menggunakan cat minyak dan kuas untuk membuat mahakarya, seorang koki atau food stylist menggunakan saus, potongan sayur, daging, dan bunga yang bisa dimakan (edible flowers). Proses menata makanan di atas piring ini dikenal dengan istilah plating.
Belakangan ini, tren food plating modern semakin berkembang pesat dan diadopsi oleh banyak pelaku kuliner. Koki tidak lagi asal menumpuk nasi dan lauk di tengah piring. Mereka memikirkan komposisi warna, keseimbangan tekstur, hingga arah tarikan saus.
Ada teknik yang menggunakan cipratan saus ala lukisan abstrak Jackson Pollock, ada juga yang menata komponen makanan dengan presisi geometris yang sangat rapi. Melalui kreativitas penyajian makanan seperti ini, sebuah hidangan sederhana seperti ayam goreng atau penutup mulut (dessert) bisa terlihat seperti benda mati yang sangat mewah dan bernilai seni tinggi.
Kenapa Keindahan Estetika Kuliner Itu Penting?
Mungkin ada sebagian orang yang berpikir, “Ah, yang penting kan rasanya enak, buat apa dihias repot-repot?” Eits, jangan salah! Secara psikologis, manusia itu “makan dengan mata” terlebih dahulu sebelum makanan tersebut benar-benar menyentuh lidah kita.
Ketika kita melihat makanan yang ditata dengan penuh keindahan estetika kuliner, otak kita secara otomatis akan mengirimkan sinyal ekspektasi bahwa makanan ini rasanya pasti luar biasa. Penataan yang cantik terbukti bisa meningkatkan selera makan dan memberikan pengalaman bersantap yang jauh lebih berkesan. Seni di dalam piring memberikan rasa hormat tersendiri bagi bahan-bahan makanan yang diolah, sekaligus menjadi bentuk penghargaan tertinggi dari koki untuk para tamunya.
Seni yang Bisa Dibuat Siapa Saja
Kabar baiknya, seni yang satu ini sangat inklusif dan bisa dicoba oleh siapa saja di rumah. Kamu gak harus jadi koki bintang lima untuk mulai berkreasi.
Mulai saja dari hal-hal kecil, seperti menata potongan buah penutup di pagi hari dengan rapi, membuat cetakan nasi yang lucu untuk bekal anak, atau belajar membuat seni busa (latte art) sederhana di atas kopi buatanmu sendiri. Menambahkan sedikit sentuhan estetika pada apa yang kita konsumsi sehari-hari terbukti bisa menjadi media hiburan kreatif yang menyenangkan di tengah rutinitas yang padat.
Pada akhirnya, seni dalam makanan mengingatkan kita bahwa keindahan itu bisa ditemukan di mana saja, bahkan di atas meja makan kita sendiri. Seni tidak selamanya harus abadi dan dipajang di dinding semen museum; kadang, seni terbaik adalah seni yang bisa kita nikmati secara visual, kita cium aromanya, lalu kita habiskan dengan penuh rasa syukur. Selamat makan dan selamat berkreasi!